Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label Kisah Kebijaksanaan ttg kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Kebijaksanaan ttg kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Agustus 2012

Bersyukur dan Bahagia

Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari , dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu.

Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. “Akh. Aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?”
Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.

“Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang,” terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.

Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.

Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, “Huah! Tuhan, terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hambamu hendak beristirahat.”

Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.

Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa ramah, “Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini.”

“Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?” tanya si pedagang.

“Silakan.”

“Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?”

“Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap hari aku bisa bekerja dengan sebaik2nya dan pastinya aku tidak harus mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana. Ya kan? Dan akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua pemberiannya ini”.

Teman-teman yang luar biasa,

Kenyataan di kehidupan ini, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan sebesar apapun tidak menjamin rasa bahagia. Bisa kita baca kisah hidup seorang maha bintang Michael Jackson yang meninggal belum lama ini, yang berhutang di antara kelimpahan kekayaannya. Dia hidup menyendiri dan kesepian di tengah keramaian penggemarnya;tidak bahagia di tengah hiruk pikuk bumi yang diperjuangkannya.

Entah seberapa kontroversial kehidupan Jacko. Tetapi, yah… setidaknya, dia telah berusaha berbuat yang terbaik dari dirinya untuk umat manusia lainnya.

Mari, jangan menjadi budaknya materi. Mampu bersyukur merupakan kebutuhan manusia. Mari kita berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri, lingkungan kita, dan bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga, kita senantiasa bisa menikmati hidup ini penuh dengan sukacita, syukur, dan bahagia.

Jumat, 10 Agustus 2012

Kebaikan Kecil Berdampak Besar Bagi Orang Lain…

Alkisah; Suatu hari Hamdan dan anaknya berdiri mengantre unutk membeli karcis pertunjukan sirkus. Ketika mereka menunggu, mereka memperhatikan keluarga yang tepat berada di depan antrian mereka. Orang tuanya berpegangan tangan dan mereka memiliki delapan anak berderet, semuanya bertingkah laku baik dan kemungkinan semuanya berumur di bawah 12 tahun.

Berdasarkan pakaian mereka yg sederhana namun bersih, Hamdan dan anaknya menduga bahwa mungkin mereka tidak kaya. Anak-anaknya asik berceloteh tentang hal-hal yang menarik yang ingin mereka lihat dan Hamdan bisa melihat bahwa sirkus merupakan pengalaman baru bagi anak-anak ini.
Ketika pasangan ini mendekati loket, seorang penjaga bertanya berapa tiket yang mereka mau beli. Si pria menjawab dengan bangga: “saya mau beli delapan tiket anak-anak dan dua tiket orang dewasa supaya saya bisa membawa seluruh keluarga saya melihat pertunjukan sirkus” Ucap Si pria ini dengan bangga.

Ketika pengjaga menyebutkan harganya, istri pria itu melepaskan tangganya dan kepalanya terkulai. Pria itu mendekati loket dan bertanya,”Berapa kamu tadi bilang?” Si penjaga menyebutkan lagi jumlahnya. Jelaslah pria itu tidak punya cukup uang. Ia kelihatan terpukul.

Hamdan melihat semua kejadian ini, memasukan tangang ke kantongnya, mengambil selembar uang 100 ribuan dan menjatuhkannya di tanah, lalu Hamdan menunduk ke bawah, mengambil uang itu, lalu menepuk bahu pria itu dan berkata, “Maafkan saya, uang ini terjatuh dari dompet Anda”

Pria itu tahu apa yang sedang terjadi. Ia melihat langsung ke mata Hamdan, memegang tanganya, dan menyalaminya, dan dengan air mata mengalir di pipinya, ia berkata “Terimakasih, terimakasih. Ini sungguh berarti bagi saya dan keluarga saya, sekali terimakasih…”

Hamdan dan anaknya kembali ke mobil mereka dan pulang. Lalu anaknya Hamdan berkata “Saya bangga punya Ayah seperti Ayah, perbuatan ayah akan selalu menjadi contoh dalam perjalan hidup ku…”

Rabu, 08 Agustus 2012

Raksasa dan Sufi

Seorang Guru Sufi sedang berkelana seorang diri melewati daerah pegunungan yang tandus, tiba-tiba ada raksasa perampok menghadangnya, “Akan kuhabisi kau,” ancam makhluk itu.

“Begitukah? Coba kalau bisa,” jawab Sang Guru, “Aku lebih kuat dari dugaanmu, dan akan mengalahkanmu.”

“Banyak cakap,” kata raksasa itu. “Kau seorang Guru Sufi, hanya mengerti hal-hal spiritual. Mana mungkin kau bisa menghentikanku, sebab tenagaku dahsyat dan aku tiga puluh kali lebih besar darimu,”

“Kalau kau sungguh ingin adu kuat,” tantang Sufi itu, “Mari kita lihat siapa yang sanggup memeras air dari batu.”
Diambilnya batu kecil dan diberikannya kepada setan itu. Betapa kerasnya mencoba, raksasa itu gagal. “Hal itu mustahil, tak ada air dalam batu ini. Tunjukkan padaku jika ada.”

Dalam keadaan remang-remang, guru itu menggenggam batu itu, mengambil sebutir telur dari sakunya, lalu membenturkan keduanya; ia bersikap seolah-olah sedang memeras batu. Raksasa itu ternganga: sebab orang sering kali takjub pada hal-hal yang tak mereka pahami, dan benar-benar menilainya tinggi, lebih tinggi dari semestinya.

“Aku harus memikirkan kembali peristiwa ini,” kata raksasa itu, “Singgahlah sebentar saja di guaku, malam ini kujamu kau!”

Sang Sufi mengikutinya ke sebuah gua yang luas sekali, penuh dengan barang-barang berharga milik ribuan musafir yang terbunuh oleh raksasa itu, laksana keadaan dalam gua Aladin.

“Berbaring dan tidurlah di sampingku,” kata raksasa itu, “Besok pagi baru kita berbincang-bincang.” Makhluk itu juga berbaring dari sekejap tertidur pulas.

Guru itu—menyadari adanya muslihat—bergegas bangkit dan bersembunyi di tempat yang aman dari raksasa itu. Sebelumnya, ia mengatur tempat tidurnya agar tampak seakan ia masih rebah.

Tidak lama kemudian, raksasa itu bangun. Dengan sebelah tangan, dipungutnya batang pohon yang ada di dekat tempat itu, lalu tiba-tiba dihantamkannya batang pohon itu sebanyak tujuh kali dengan keras pada sosok di tempat tidur sang Sufi. Kemudian, ia tidur lagi.

Guru itu kembali ke tempatnya, berbaring, dan berseru pada raksasa itu, “Hoi raksasa! Memang gua ini nyaman, tetapi seekor nyamuk telah menggigitku tujuh kali. Lakukanlah sesuatu untuk menangkap nyamuk itu.”

Keluhan ringan tersebut menggentarkan si raksasa dan muncul keraguan untuk menyerang Sufi itu lagi. Bagaimanapun, bila seorang dipukul tujuh kali sekuat tenaga dengan batang pohon oleh raksasa, orang itu seharusnya sudah…

Pagi harinya, raksasa itu melemparkan sebuah kantong air dari kulit lernbu pada Sang Sufi lalu berkata, “Pergilah mengambil air untuk sarapan, supaya kita bisa minum teh.”

Alih-alih menggunakan kantong air itu (yang tentu sangat berat untuk diangkat), guru itu berjalan ke sungai yang terdekat dan mulai menggali saluran kecil menuju gua.

Raksasa sudah kehausan, dan bertanya “Mengapa kau tidak bawa airnya?”

“Bersabarlah, temanku. Aku sedang membuatkanmu saluran air. Dengan begitu, air segar akan langsung menuju mulut gua, dan kau tidak usah lagi minum air dari kulit lembu.”

Tetapi raksasa itu pun sudah terlampau haus untuk menunggu. Ia pergi ke sungai dan mengisi sendiri kantong airnya. Ketika teh selesai dibuat, ia minum beberapa galon, dan kemampuan berpikirnya jadi lebih baik. “Jikalau kau memang demikian perkasa—dan sudah kusaksikan itu—tak sanggupkah kau menggali saluran itu secepat mungkin, bukannya jengkal demi jengkal?”

“Sebab,” kilah guru itu, “Sesuatu yang berharga barulah sungguh-sungguh berharga bila dilakukan dengan upaya sekecil mungkin. Semua hal punya ukuran upaya masing-masing. Dan aku melakukan upaya seminim mungkin untuk menggali saluran ini. Lagipula, aku tahu bahwa kau adalah mahluk yang terpenjara dalam kebiasaan sehingga kau akan selalu menggunakan kantor air dari kulit lembu.”

Gadis Cerdas, Gadis Impian

Ada seorang pemuda Arab yang tampan, shalih, dan sangat cerdas. Dia ingin menikah dengan seorang gadis shalihah dan cerdas seperti dirinya. Maka, mulailah dia mengembara dari satu kabilah ke kabilah lain, untuk mencari gadis impiannya.

Suatu ketika, dia berjalan menuju kabilah di Yaman. Di tengah perjalanan, di berjumpa dengan seorang lelaki. Akhirnya, dia berjalan bersama lelaki itu.

Pemuda itu menyapa,“Hai Tuan, apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?”

Spontan lelaki itu menjawab,“Hai bodoh, kau ini bagaiman? Aku menunggang kuda dan kau menunggang kuda. Bagaimana kita bisa saling membawa?”

Pemuda itu diam saja mendengar jawaban lelaki itu.

Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Lalu, mereka melewati sebuah kampung. Kampung itu yang dikelilingi oleh kebun yang sudah tiba masa panennya.

Pemuda itu bertanya,“Menurutmu, buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya, atau belum, ya?”

Seketika, lelaki itu menjawab,“Pertanyaan itu aneh sekali! Kamu sendiri melihat dengan mata kepalamu, buah-buahan itu masih ada di pohonnya dan belum dipanen, kok kamu bertanya, apakah buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?”

Pemuda itu hanya diam dan tidak menjawab perkataan lelaki itu.

Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanan. Baru sebentar berjalan, mereka bertemu dengan orang-orang yang sedang mengiring jenazah.

Pemuda itu berkata,“Menurutmu, yang diiring dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati, ya?”

Lelaki itu menjawab,“Aku semakin tidak paham denganmu. Aku tidak pernah menemukan pemuda yang lebih bodoh darimu. Ya, jelas! Jenazah itu akan dibawa untuk dikuburkan. Tentu dia sudah mati.”

Pemuda itu kembali diam dan tidak menjawab sepatah kata pun atas komentar lelaki itu. Akhirnya, keduanya sampai di rumah lelaki itu. Dia mengajak pemuda itu menginap di rumahnya. Dia merasa kasihan, sebab pemuda itu terlihat sudah sangat letih.

Lelaki itu memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik.

Begitu tahu ada seorang tamu menginap, anak gadisnya itu bertanya,”Ayah, siapa dia?”

“Dia itu pemuda paling bodoh yang pernah aku temukan,” jawab ayahnya.

Anak gadis itu malah penasaran. Dia mengejar dengan pertanyaan berikutnya,”Bodoh bagaimana?”

Ayahnya langsung menceritkan awal pertemuannya dengan pemuda itu dan segala perkataan serta pertanyaannya.

Mendengar cerita ayahnya, anak gadis itu berkata,”Ayah ini bagaimana? Dia itu tidak bodoh. Justru dia sangat cerdas dan pandai. Kata-katanya mengandung makna yang tersirat. Ketika dia mengatakan ‘Apakah kau bisa membawaku dan aku membawamu?’, sebenarnya maksudnya adalah,‘Apakah kita bisa saling berbincang-bincang sehingga bisa membawa suasana yang lebih akrab?’ Ketika dia mengatakan,“Buah-buahan itu sudah dimakan oleh pemiliknya atau belum?’ Ia memaksudkan,‘Apakah pemiliknya sudah menjualnya, pemiliknya tentu menerima uangnya dan membelanjakannya untuk makan dia dan keluarganya. Kemudian, ketika dia bertanya,‘Apakah jenazah di dalam keranda itu masih hidup atau sudah mati?‘ Maksudnya,‘Apakah jenazah itu memiliki anak yang bisa melanjutkan perjuangannya atau tidak?’

Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, lelaki itu keluar dan menemui pemuda itu. Dia meminta maaf atas perkataannya yang membodoh-bodohkan pemuda itu. keduanya lalu berbincang-bincang.

Lelaki itu berkata,”Sekarang aku baru tahu apa maksud pertanyaan-pertanyaanmu dalan perjalan tadi.”

Lalu, dia menjelaskan seperti yang di katakan putrinya.

Mendengar itu sang pemuda bertanya,“Saya yakin itu bukan lahir dari pikiranmu sendiri dan bukan perkataanmu, demi Allah, katakanlah padaku siapa yang mengatakannya?”

“Yang mengatakan hal itu adalah putriku,” jawab lelaki itu.

Spontan pemuda itu berkata,“Apakah kau mau menikahkan aku dengan putrimu?”

“Ya”

Begitulah, setelah melalui pengembaraan panjang, akhirnya pemuda itu menemukan pendamping hidup yang dia impikan.

Kamis, 02 Agustus 2012

Perbuatan Baik Yang Tidak Pernah Sia-Sia

Al kisah ada seorang dermawan yg berkeinginan untuk berbuat kebaikan.
Dia telah menyiapkan sejumlah uang yang akan dia berikan kepada beberapa orang yang ditemuinya.
Pada suatu kesempatan dia bertemu dengan seseorang maka langsung saja dia menyerahkan uang yang dimilikinya kepada orang tersebut. Pada keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang penjahat beringas. Mendengar kbr ini si dermawan hanya mengatakan” Ya Tuhan aku telah memberikan uang ke pada seorang penjahat”
Di lain waktu, dia kembali bertemu dengan seseorang, si dermawan pada hari itu juga telah berniat untuk melakukan kebaikan. Ia dengan segera memberikan sejumlah uang kepada orng tersebut. Keesokan harinya tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan uang kpd seorang koruptor. Mendapat kabar ini si dermawan hanya berkata “Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada koruptor”.
Si dermawan ini tidak berputus asa, ketika dia bertemu dengan seseorang dengan segera dia menyerahkan sejumlah uang yang memang telah disiapkannya. Maka esok harinya pun tersiar kabar bahwa ada seseorang yang telah memberikan sejumlah uang kepada seorang kaya raya. Mendengar hal ini si dermawan hanya berkata. ” Ya Tuhan aku telah memberikan uang kepada penjahat, koruptor dan seorang yang kaya raya”.
Sekilas kita bisa menyimpulkan bahwa si dermawan ini adalah seorang yang “Ceroboh” Asal saja dia memberikan uang yang dimilikinya kepada orang yang tidak dikenalnya, padahal jika dia lebih teliti maka niat baik nya itu bisa lebih berguna tersalurkan kepada orang yang memang membutuhkan.
Tapi ternyata suatu niat yg baik pasti akan berakhir dengan baik, pun begitu pula dengan “kecerobohan” si dermawan.

Uang yg diberikannya kepada sang penjahat ternyata mampu menyadarkannya bahwa di dunia ini masih ada orang baik, orang yg peduli dengan lingkungan sekitarnya. Penjahat ini bertobat dan menggunakan uang pemberian sang dermawan sebagai modal usaha. Sementara sang koroptor, uang cuma-cuma yg diterimanya ternyata menyentuh hati nuraninya yang selama ini telah tertutupi oleh keserakahan, dia menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang berapa banyak yang bisa kita dapatkan. Dia bertekad mengubah dirinya menjadi orang yang baik, pejabat yang jujur dan amanah. Sementara itu pemberian yg diterima oleh si kaya raya telah menelanjangi dirinya, karena selama ini dia adalah seorang yg kikir, tak pernah terbesit dalam dirinya untuk berbagi dengan orang lain, baginya segala sesuatu harus lah ada timbal baliknya. Dirinya merasa malu kepada si dermawan yang dengan kesederhananya ternyata masih bisa berbagi dengan orang lain.
Sahabat, tak akan ada yang berakhir dengan sia-sia terhadap sutau kebaikan. Karena kebaikan akan berakhir pula dengan kebaikan. Hidup ini bukanlah soal berapa banyak yang bisa kita dapatkan, tapi berapa banyak yang bisa kita berikan
.

Jumat, 27 Juli 2012

Layang - layang...


Di suatu sore, tampak beberapa anak sedang bermain layangan.

Salah satu layangan berkata dalam hatinya,
"Aku kesal,
Aku mau terbang tinggi,
Setinggi-tingginya tanpa ada yg menahan,
Tapi kenapa aku harus diikat dgn benang?
Aku jadi tak bisa terbang dgn bebas!!"

Angin pun lalu bertiup kencang...

"Ah, anginnya kencang", lanjut si layangan

"Aku akan mendekati layangan lain,
supaya benangku bisa putus.
Nanti aku dapat terbang tinggi & bebas lepas!"

Maka dgn dorongan angin,
si layangan pun berusaha mendekati layangan lain,
membiarkan benangnya bergesekan dgn benang mereka.

Sesaat kemudian, benangnya putus...

"Akhirnya, putus juga.
Sekarang aku bisa terbang semauku, naik tinggi sesukaku."

Tapi kemudian, apa yg terjadi?

"Loh?!?
Kenapa ini?
Kok aku jatuh?
Krosak..."

Layangan itu jatuh & tersangkut di atas pepohonan.

"Ah, aku tersangkut...
Kenapa begini?
Bukannya terbang tinggi,
aku malah tersangkut di pepohonan" kata si layangan sedih

"Sekarang aku tau,
Justru karena aku terikat benang,
Mangkanya aku bisa tetap melayang di udara.
Ternyata benang itu yg membuat aku bisa tetap terbang..."

Pesan Moral,
Pada dasarnya hati manusia itu seperti layangan yg ingin hidup bebas sesuka hati, tanpa peduli nasihat & didikan.

Sering anda pikir nasihat & didikan adalah sesuatu yg mengekang,
Padahal kedua hal itu sebenarnya sama seperti benang pd layangan:
"Itulah yg membuat anda tetap TERBANG & BERHASIL!!"

Saat hati anda akan membuat pilihan yg salah,
benang 'nasihat & didikan' menarik anda untuk tetap ada di jalan yg benar.

Saat hati anda mulai sombong karna ada di puncak keberhasilan,
benang 'nasihat & didikan' menarik anda kembali untuk rendah hati.

Karna TUHAN adalah sumber nasihat & didikan yg paling benar,
Biarlah hati anda selalu terbuka untuk nasihat & didikan,
sehingga anda dapat tetap 'TERBANG MELAYANG' !!!

Rabu, 25 Juli 2012

Kaisar dan Penunggang Kuda

Ada seorang Kaisar yg mengatakan kepada penunggang kudanya yg setia mengabdi, apabila ia bs mengendarai kudanya & menjangkau wilayah sebanyak yg ia mampu, maka sang Kaisar akan memberikan wilayah sebanyak yg ia jangkau.

Tentu saja, sang penunggang kuda segera melompat naik ke atas kudanya & secepat mungkin pergi melakukannya.

Dia trs memacu & memacu,

mencambuk kudanya.
Ketika ia merasa lapar atau lelah, dia tidak berhenti karena dia sangat ingin memperoleh wilayah sebanyak mungkin.

Pada akhirnya, saat ia telah menjangkau wilayah yg cukup besar, ia kelelahan & sekarat.

Sang penunggang kuda lalu bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa aku memaksa diriku begitu keras utk menjangkau begitu banyak?

Sekarang aku sekarat & aku hanya memerlukan sebidang tanah yg sangat kecil utk menguburkan diriku sendiri.”

PESAN MORAL,

Kisah di atas sama dgn perjalanan hidup kita.

Tiap hari kita memaksa diri dgn keras u/ mengumpulkan uang, kekuasaan atau menjadi tenar (money, power or fame).

Kita mengabaikan kesehatan, waktu bersama keluarga, sahabat, lingkungan sekitar & hobi yg kita sukai.

Saat kita melihat ke belakang, kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita tak membutuhkan sebanyak itu, namun kita tak bisa mengembalikan waktu yg terlewatkan.

Hidup ini bukan hanya bekerja menghasilkan uang, mendapatkan kekuasaan atau ketenaran.

Bekerja diperlukan u/ bertahan hidup dan agar dpt menikmati keindahan & kebahagiaan dlm kehidupan, juga agar kita bisa menjadi dan membagi berkat dgn org lain.

Hidup adalah keseimbangan antara bekerja & bermain, utk keluarga, sahabat & waktu pribadi. Dan yg terpenting adlh memiliki hubungan pribadi dg Tuhan Allah kt.

Kita hrs memutuskan bagaimana caranya menyeimbangkan hidup!!

“Tentukan & Atur Prioritas Hidup Kita dg bijaksana

Bekerja Keras Tanpa Hasil

Ada seorang pemuda. Dia tertarik dengan balap sepeda. Setelah mengumpulkan uang, akhirnya dia mampu membeli sebuah sepeda balap.

Dengan senang hati, dia mencoba sepeda balap tersebut. Setelah beberapa hari mencoba, dia kecewa berat. Dia tidak bisa mengendarai sepedanya dengan kecepatan tinggi. Bagaimana pun dia mengayuh, tetap saja sepeda berjalan dengan lambat. Akhirnya dia membawa sepeda tersebut ke tempat dimana dia membelinya.

“Pak, Anda menipu saya! Katanya ini sepeda balap, koq larinya lambat banget. Bahkan kalah oleh sepeda biasa.” katanya sambil marah-marah kepada penjual sepeda.
“Yang benar pak? Padahal pembalap nasional saja menggunakan sepeda seperti ini. Mereka bisa cepat koq?” kata penjual sepeda, keheranan.

“Buktinya? Saya sudah sekuat tenaga mengayuh, tetap saja lambat.” katanya menaikan nada suaranya.

“Mungkin ada yang rusak pak. Boleh saya periksa?” tanya penjual sepeda tetap tenang.

Kemudian dia memeriksa sepeda. Setelah beberapa saat dia berkata:

“Tidak ada yang rusak pak, kondisinya 100% .”

“Tapi.. kenyataannya? Sepeda itu lambat! Coba saja sendiri jika tidak percaya.” kata pemuda tersebut tetap pada nada tinggi.

“Baik pak, akan kami coba.” kata penjual sepeda sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mencoba sepeda tersebut.

Wussss…. setelah beberapa saat, sepeda itu melaju dengan kencangnya. Jelas saja membuat pemuda tadi bengong.

“Koq bisa yah?”, kata pemuda tadi bingung.

“Silahkan dicoba lagi. Saya mau lihat cara Anda membawa sepeda.” kata penjual sepeda sambil tersenyum lega, sebab sepedanya memang tidak apa-apa.

Pemuda tersebut mencoba mengayuh sepeda. Dia mencoba mengayuh dengan cepat dan sekuat tenaga. Memang benar, sepedanya tidak melaju dengan cepat. Usaha si pemuda mengayuh sepeda terlihat sia-sia karena sepedanya tidak juga melaju dengan cepat. Akhirnya, dengan badan penuh peluh, dia menghampiri penjual sepeda.

“Apa yang salah yah?”, katanya sambil tetap bingung.

Penjual sepeda tersenyum. Dia sudah menemukan dimana letak kesalahannya.

“Secepat apa pun Anda mengayuh, kecepatannya tidak naik dengan berarti jika Anda tetap di gigi satu.” kata penjual sepeda menjelasnya.

“Oh… jadi harus pindah gigi yah? Bagaimana caranya?”, kata pemuda tersebut sambil menahan malu. Mukanya merah padam. Jika tadi merah karena marah, sekarang merah karena malu.

***

Hikmah Cerita Motivasi Ini:
Mengapa pemuda tersebut hanya menggunakan gigi satu? Betul, karena dia menganggap sepeda itu hanya memiliki satu gigi. Bagaimana pun dia bekerja keras, dia tetap saja menyia-nyiakan potensi sepeda itu sebenarnya.

Begitu juga dengan kita. Kita akan bertidak sesuai dengan anggapan kita terhadap diri kita. Jika kita menganggap bahwa potensi kita hanya sebatas apa yang sudah kita dapatkan, mungkin kita juga menyia-nyiakan potensi diri kita sebenarnya.

Life is like a ten-speed bike. Most of us have gears we never use.
~Charles Schultz

Banyak yang bertanya kepada saya, “Bagaimana kita bisa menggunakan “gigi” yang lebih tinggi?”

Caranya ialah dengan meningkatkan percaya diri. Atau.. Anda tetap bekerja keras tanpa hasil. Mudah-mudahan, cerita motivasi ini bermanfaat bagi Anda.

Senin, 23 Juli 2012

Kisah Kolonel Sanders

Inilah kisah tentang Kolonel Harland Sanders, sang pemilik resep ayam Kentucky Fried Chicken atau KFC yang terkenal itu. Pasti Anda semua pernah merasakan kenikmatannya. Dia telah memasak dari usia tujuh tahun, oleh karena keadaaan yang membuatnya demikian. Di usianya yang ke 40, dia mulai memasak untuk orang yang berpergian dan singgah di bengkelnya tetapi dia belum mempunyai restoran. Selama sembilan tahun ia terus menyempurnakan resep yang dimilikinya. Dia memiliki resep ayam yang dibuatnya dengan menggunakan sebelas bumbu dan rempah-rempah, dengan resep masakan itu daging ayam menjadi sangat empuk, renyah dan gurih.
Sanders tidak patah semangat, dia berkeliling dari kota ke kota untuk menawarkan resep ayam buatannya. Dia mencoba menawarkan resep ayam buatannya dan gagal. Lebih dari 1000 kali ia mencoba dan tercatat 1433 kali ia mencoba. Dan yang menerima tawarannya hanya rumah makan kecil militer di daerah Kentucky. Perjuangannya membuahkan hasil, semangatnya tidak pernah berhenti. Sekalipun Sanders baru memulai usahanya pada usia 66 tahun. Semangat dan kegigihan dari Kolonel Sanders membuatnya menjadi pendiri waralaba ayam goreng terkenal Kentucky Fried Chicken. Kolonel Harland Sanders adalah pelopor industri waralaba siap saji. Dan Kentucky Fried Chicken atau KFC telah tumbuh menjadi salah satu yang terbesar di dunia dalam industri tersebut. KFC berkembang pesat. Bukan saja hanya ada di negara asalnya Amerika, tetapi hampir di 80 negara di seluruh dunia terdapat outlet Kentucky Fried Chicken. Yang kemudian banyak restoran cepat saji yang sejenis mengikutinya. Bahkan apapun restorannya banyak orang tetap mengatakan ayam goreng dengan resep seperti itu dengan julukan ayam Kentucky.

Bagaimanakah perasaan Kolonel Sanders ketika dia berusaha menawarkan resep masakannya, tahun-tahun yang dijalaninya sebagai bukan siapa-siapa. Sampai ketika resep ayam masakannya menjadi terkenal dan menjadi pelopor di dunia. Jika dia menyerah dan berhenti maka mungkin kita tidak akan merasakan ayam Kentucky-nya Mr. Sanders.

Semangat adalah salah satu yang harus Anda miliki dalam menjalani hidup. Anda tidak tahu memang akan apa yang terjadi esok hari, tetapi dengan semangat yang Anda miliki, maka Anda akan mampu menghadapinya.
Masalah akan tetap ada, tetapi bagaimana Anda menyelesaikannya. Sebagai seorang karyawan Anda mengalami berbagai macam permasalahan pada pekerjaan dan dapat saja itu membuat Anda menjadi lelah dan tidak bersemangat. Anda perlu untuk memotivasi diri sendiri untuk tetap bersemangat.

Buatlah perencanaan Anda dengan bersemangat dengan suatu harapan bahwa tahun depan akan lebih baik. Persaingan tidak akan berhenti, tapi dapat terlihat berbeda antara karyawan yang bersemangat dan selalu berpikir kreatif dengan yang hanya menjalankan tugas sehari-hari. Jangan hanya menjadi biasa-biasa saja dan berpikir ”yah..tahun depan akan sama saja dan tidak ada bedanya dengan tahun ini dan tahun-tahun kemarin.” Anda dapat menjalankan tugas-tugas Anda setiap hari, bahkan merencanakan tahun depan dengan lebih bersemangat dan tidak menyerah. Selalu ada harapan, karena setiap permasalahan pasti ada solusinya. Tetap semangat !!!

Kisah Penghargaan

Seorang pemuda lulusan akademis terbaik melamar pekerjaan sebagai seorang manager di sebuah perusahaan besar.

Dia telah melewati interview awal; Direktur yang akan melakukan interview akhir dan menentukan putusannya.

Sang Direktur melihat dari CV dan menemukan prestasi akademis yang luar biasa, sejak dari sekolah dasar hingga tingkat sarjana, tak pernah sekalipun si Pemuda mendapat nilai buruk.

Sang Direktur bertanya, "Apakah engkau memperoleh bea siswa dari sekolah?", dan si Pemuda menjawab "belum pernah".

Sang Direktur bertanya, "Ayahmu yang membiayai sekolahmu?", si Pemuda menjawab, "Ayahku meninggal saat aku masih bayi, Ibuku yang membayarkan uang sekolahnya".

Sang Direktur bertanya, "Dimana ibumu bekerja?", si Pemuda menjawab, "Ibuku bekerja sebagai tukang cuci pakaian". Kemudian, sang Direktur meminta si Pemuda memperlihatkan tangannya, yang kemudian menunjukkan sepasang tangannya yang halus dan lembut.

Sang Direktur bertanya, "Apakah selama ini engkau membantu Ibumu mencucikan pakaian?". Si Pemuda berkata, "Tidak pernah. Ibuku selalu memintaku untuk belajar dan rajin membaca buku, lagipula Ibuku dapat mencuci pakaian lebih cepat dari yang dapat kulakukan".Sang Direktur berkata, "Aku punya satu permintaan, jika kau pulang nanti, coba bersihkan tangan ibumu, dan temui aku lagi besok pagi".

Si Pemuda merasa bahwa kesempatannya mendapat pekerjaan tsb sangat berpeluang, jadi dia segera pulang, dan dengan penuh senang ingin membersihkan tangan ibunya.
Ibunya merasa heran dan senang bercampur-baur, tapi ia tetap julurkan tangannya kepada sang anak. Si Pemuda membersihkan tangan Ibunya dengan pelan, sambil berlinang air mata. Ini pertama kalinya ia mengetahui betapa tangan Ibunya begitu keriput, dan penuh goresan luka. Beberapa luka masih begitu pedih, sehingga membuat tubuh Ibunya menggigil saat dibersihkan dengan air.

Baru pertama kali ini si Pemuda menyadari bahwa inilah sepasang tangan yang tiap hari mencuci pakaian demi uang sekolahnya, luka-luka goresan itu adalah harga yang dibayar oleh sang Ibu untuk pendidikan dan masa depannya.

Setelah selesai membersihkan tangan ibunya, si pemuda diam-diam mencucikan semua sisa pakaian tsb.

Malam itu, keduanya bercakap-cakap lama sekali.

Esok paginya, si Pemuda datang kembali ke kantor sang Direktur

Sang Direktur melihat linangan air mata si Pemuda, dan bertanya: "Bisa kamu ceritakan apa yang telah kau lakukan dan pelajari di rumahmu kemarin.?"

Si Pemuda menjawab, "Aku membersihkan tangan ibuku, dan juga menyelesaikan sisa cucian pakaian".

Sang Direktur berkata, "coba ceritakan apa perasaanmu."

Si Pemuda berkata, "Pertama, aku sekarang mengerti arti penghargaan, tanpa Ibuku, tiada keberhasilan bagiku hari ini. Kedua, aku telah bekerja bersama ibuku, dan sekarang mengerti sulitnya untuk menyelesaikan sesuatu dengan sempurna. Ketiga, aku menyadari pentingnya nilai kekeluargaan."

Sang Direktur berkata, "Itulah yang kuminta, aku ingin mempekerjakan orang yang bisa menghargai bantuan orang lain, seseorang yang bisa memahami sulitnya menyelesaikan suatu tugas, dan seseorang yang tidak melulu mengukur uang sebagai patokan karirnya. Engkau diterima bekerja."

Di kemudian hari, si anak muda ini bekerja dengan tekun dan giat, serta mendapat rasa hormat dari bawahannya, semua rekannya juga demikian, dan perusahaan maju dengan pesat. Seorang anak yang selalu dibantu mengerjakan dan dimanja permintaannya, akan membentuk mental 'terima jadi' dan selalu menuntut diutamakan. Ia takkan menghargai upaya orang-tuanya. Ketika bekerja, ia beranggapan orang lain harus menurut padanya, dan jika menjadi seorang atasan, ia takkan mau memahami kesulitan anak-buahnya dan selalu menyalahkan. Orang macam ini bisa berhasil, tetapi hanya sekejap, karena tidak akan merasakan suatu kepuasan, ia akan selalu mengeluh dan penuh rasa benci dan permusuhan.
Jika kita menjadi orang-tua yang protektif seperti itu, kita mencintai sang anak atau justru menjerumuskannya..?

Anda bisa memberikan anak anda sebuah rumah tinggal yang besar, makanan yang enak dan sehat, menonton tv layar lebar. Tetapi saat anda memotong rumput halaman, biarkan mereka juga mengalaminya. Setelah makan, minta mereka mencuci piring dan mangkok bersama-sama. Bukan sekadar masalah uang untuk menggaji pembantu, tetapi karena anda mencintai mereka dengan cara yang benar. Anda ingin mereka mengerti, bahwa meskipun kaya, akan tiba suatu waktu rambut mereka juga beruban. Hal yang terpenting adalah bahwa "anak anda belajar bagaimana cara menghargai usaha yang dilakukan, mengalami kesulitan dan tantangan, serta belajar bekerja-sama dengan orang lain untuk menyelesaikan sesuatu.

Kamis, 19 Juli 2012

Bagaimana Menikmati Hidup..

"Bagaimana kita menikmati hidup itu seperti duduk di depan perapian. Terlalu jauh dingin, terlalu dekat panas."

Dalam perjalananan menuju Sydney bulan Oktober tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang nenek, berusia sekitar 65 tahun. Ia terbang sendirian dan bermaksud menengok salah satu anak dan cucunya yang tinggal menetap di Sydney. Kami sempat ngobrol banyak hal, termasuk kehidupan anak-anaknya di luar negeri, yang menurutnya kehidupannya sangat teratur.

"Tapi saya nggak betah hidup di Sydney!" katanya.

"Lho, kok?" saya berusaha menyelidik alasannya.

"Berat Dik, naik turun apartemen, jalan kaki, kalau mau pergi jauhan dikit naik kereta, biar murah. Tapi repot kalau harus bawa barang - barang belanjaan."
Meski agak heran, saya mengangguk dan tersenyum saja mendengar jawaban jujur itu. Saya maklum, usia ibu ini memang sudah tidak muda lagi, sehingga hal 'sepele' seperti itu memang akan menjadi masalah besar baginya. Lagi pula, aktivitas seperti itu tidak biasa ia lakukan di Jakarta.

Pastilah, kalau dilihat dari penampilannya, ibu ini tidak pernah melakukan segala sesuatu sendirian. Ia pasti menggaji sopir yang selalu siap mengantarnya dari pintu ke pintu: pintu rumah ke pintu mall, pintu rumah sakit, pintu kantor atau tempat-tempat lain. Juga, untuk pekerjaan rumah tangga, pastilah banyak pembantu yang dia bayar untuk mengurusnya.

Secara tidak sengaja, sesampai di Sydney, saya juga mendapatkan cerita bahwa banyak mahasiswa Indonesia di sana yang mengalami masalah sama dengan ibu yang saya kenal di pesawat itu. "Habis bagaimana Pak, di Jakarta mereka kan anak orang - orang kaya yang tidak biasa mengurus diri sendiri. Apa - apa disiapkan pembantu dan sopir." kata Obed, yang bekerja di sebuah perusahaan education services.

"Kalau Anda sendiri?"

"Yah, saya sudah lama di sini dan sudah terbiasa." katanya sambil menambahkan bahwa semua tergantung kepada masing-masing pribadi. Ia sendiri juga berasal dari keluarga yang cukup berada di Indonesia.

Saya lalu teringat seorang kawan di Indonesia "menduduki posisi penting di sebuah organisasi" yang saya nilai tidak terlalu 'rese' dengan segala sesuatu. Ia biasa naik Metromini. Ia juga tidak sungkan makan di Warteg dan Warung Tenda. Sebaliknya ia juga tidak kikuk keluar masuk hotel - hotel mewah, atau klub ini itu. Semuanya ia anggap biasa - biasa saja.
"Bagaimana kita hidup itu seperti kalau kita sedang berdiam di depan perapian," katanya suatu ketika. "Kita bisa duduk mendekat atau menjauhi perapian agar terasa nyaman. Terlalu jauh dingin, terlalu dekat akan terasa panas. Kita yang bisa mengukur diri kita sendiri." lanjutnya.

"Nah, sama dengan kekayaan, fasilitas atau apa pun. Kita bisa mengatur diri kita. Haruskah naik BMW atau cukup Metromini, haruskah makan di Ahyat atau di Warung Padang, haruskah menenteng Gucci atau tas Cibaduyut ... semuanya seperti kita duduk di depan perapian. Kita yang harus menempatkan diri kita sendiri, di mana seharusnya kita duduk." katanya sambil tersenyum bijak.

Kata - kata ini saya ingat sampai sekarang. Semoga Anda juga.

Senin, 09 Juli 2012

TAK PERLU RAGU MASA DEPAN

Ada sepasang suami istri muda. Mereka ragu-ragu untuk melahirkan keturunan atau anak-anak. Alasannya, mereka merasa bahwa dunia ini semakin jelek, gersang, keras, dan penuh malapetaka. Mereka tidak mau menyiksa dan menyakiti anak-anak mereka, karena masa depan lingkungan hidup semakin suram.

Pasangan itu mulai sibuk mengejar karier, kekayaan, dan sukses. Mereka berdua amat sibuk dengan menjamin masa depan dan barangkali masa tua mereka. Tidak ada waktu untuk berdoa, untuk kegiatan sosial atau membantu sesama.

Mereka terbelenggu oleh kesibukan, karya dan rencana mereka. Untuk soal itu mereka berhasil. Setiap tahun mobil mereka berganti dan rumah menjadi makin indah. Tetapi masing-masing, baik istri, maupun suami sebenarnya tidak bahagia, walaupun bicara bersama juga jarang.

Mereka masing-masing seperti disuruh kerja paksa oleh pikiran, obsesi, dan pandangan hidup mereka. Kerja, maju, cari sukses, itu saja yang ada dalam pikiran mereka. Mereka dijajah, mereka merana, mereka ada di jalan buntu, walaupun mungkin belum sadar. Tetapi boleh saja manusia merencanakan, namun Tuhanlah yang menentukan.

Tanpa dikehendaki, tanpa rencana, tiba-tiba terjadi sesuatu yang tak terduga. Sang isteri di usia lanjut ternyata hamil. Hidup baru menawarkan diri. Mereka saling memandang, mereka mulai berbicara, mereka merenungkan hidup, kesibukan mereka selama ini. Mereka mengaku bahwa tanpa harapan, tanpa iman, hidup mereka sebenarnya kosong, mencekam, dan membosankan. Kini berkat Tuhan ada tawaran perubahan, pembebasan dalam hidup mereka. Hidup baru, kedatangan hadiah Tuhan, membuat hidup mereka berubah.

Pada saat hidup menjadi layu dan kering, tiba-tiba Tuhan menunjukkan jalan keluar. Kepala mereka terangkat, hati mereka diarahkan pada si kecil, mungil, dan lemah. Dan, hidup mereka pun berubah menjadi bermakna, belenggu penjajahan kerja paksa, tanpa tujuan dan nilai abadi dipatahkan.

Tiba-tiba mereka mendapatkan masa depan yang baru, mereka mulai ada waktu untuk mencintai, berdoa, bersyukur, dan berharap. Yang hampir mati dan tidak berbuah, ternyata berkat intervensi Allah mulai bertumbuh, berkembang, dan berbuah.

Kita sering diajak untuk menyadari bahwa pola, cara hidup kita sering salah. Membosankan, penuh kesibukan tetapi tanpa tujuan atau arah, hidup kita seperti terancam kepunahan, pesimisme, dan ketakutan. Buat apa semuanya? Ke mana hidup kita? Bagaimana masa depan anak-anak kita? Gelap gulita, ancaman, dan ketakutan kadang-kadang menguasai pikiran dan hati kita. Tetapi itu bukan akhir, sebab di tengah-tengah penderitaan, ada Allah, ada uluran tangan-Nya, yang menghendaki dunia, pikiran, hidup yang baru.

Jumat, 06 Juli 2012

Kacamata Yang Kotor

Suatu ketika ada seorang DPR yang tugas keluar negeri untuk studi banding tentang tata kenegaraan ke suatu negara. Kedudukannya adalah ketua rombongan, sehingga wajar kalau disegani oleh seluruh anggota rombongan. Usianya sudah cukup untuk dikatakan tua. Agak kesulitan jika melihat sesuatu yang ada didekatnya. Oleh karenanya, saat membaca, saat melihat sesuatu yang dekat dibutuhkan alat bantu berupa kacamata.

Semua tugas telah dilaksanakan, tibalah saatnya waktu yang dinanti-nantikan. Yaitu free time yang biasa diisi dengan pergi ketempat wisata dan berbelanja atau sekedar membeli oleh-oleh. Sesuai pesanan keluarga, oleh-oleh kali ini berupa hiasan yang bisa dipasang di dinding, atau di meja ruang keluarga.

Tiap mengunjungi tempat wisata, selalu keluar kata-kata kagum dan pujian. Tentunya hal ini diangguki oleh para pendampingnya. Selesai agenda jalan-jalan, selanjutnya adalah mencari cendera mata.

Kali ini tujuan adalah ke toko penjual cendera mata. Diperhatikannya tiap pernik cendera mata dengan seksama, dan tentunya memakai kacamata ka. Namun ternyata ketua rombongan ini kurang berkenan dengan cendera mata yang dipajang di toko. Perkataan yang keluar hanyalah ungkapan-ungkapan negatif. Ya kotorlah, kurang bagus, warna yang berantakan, dan lain-lain. Terpaksa pindah ke toko lain. Di toko lain pun, tetap sama, hingga akhirnya keluar masuk toko hingga pulang ke Indonesia dengan tidak membawa apa yang dipesankan keluarga.

Sesampainya di rumah, barulah sadar jika kacamata yang ia pakai ternyata kotor.
=========
Sahabat , artikel dan cerita kali ini berkaitan dengan persepsi.
Maaf karena memakai kata DPR, bukan bermaksud apa-apa, ini hanya cerita fiktif saja. Jika memang benar, kebetulan saja . Yang merasa, silahkan tersinggung

Cerita diatas menggambarkan bahwa segala peristiwa dan kejadian dalam kehidupan ini akan terlihat positif ataupun tidak tergantung dari kacamata yang kita pakai. Kacamata yang kita pakai akan membentuk persepsi, yaitu cara pandang berdasarkan pola pikir dan perilaku.

Setiap orang dapat mendeskripsikan situasi atau kejadian secara berbeda berdasarkan penglihatan mereka. Persepsi tersebut akan mempengaruhi pola pikir serta tindakan selanjutnya.

Dr. Wayne Dyer mengatakan, “When you change the way you look at things, the things you look at change. – Ketika Anda mengubah cara pandang terhadap sesuatu, maka apa yang Anda lihat akan berubah.”

Berpikir dan bersikap optimis tentu membantu persepsi Anda lebih jernih, sehingga nampak jelas peluang-peluang baru yang dapat menolong situasi Anda atau memandu Anda menuju sukses dan kebahagiaan.

Kamis, 05 Juli 2012

Arti Sebuah Waktu

Alkisah ada seorang wanita yang hidup di sebuah desa terpencil, dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi wajahnya. Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota kepada kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak oleh kedua orang tuanya. Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya dia pun menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya datang menghampiri dia. Dan tiba-tiba ibunya bilang “Kamu boleh pergi ke kota nak”.

Mendengar perkataan ibunya dia pun tersenyum. Dan pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke kota. Di tengah perjalanan yang lama dan melelahkan dia istirahat di sebuah rumah, dan dia pun membayangkan, ” andai ku bisa membangun rumah mewah dan dapat mengoprasi wajah ku yang biasa menjadi luar biasa ini.” Tiba-tiba di tengah-tengah lamunannya datang seorang nenek tua menghampirinya, dan bertanya “kenapa nak kamu tersenyum sendiri?”


“Saya sedang membayangkan andaikan saja ku bisa sukses di kota dan dapat mengoprasi wajahku ini”, kata dia. Dan nenek itu mengeluarkan jam kecil dari kantongnya, kemudian nenek itu berkata “Kamu tinggal putar jam itu sesuai dengan putaran jarum jam, bila kamu ingin segera meraih cita-citamu”.
“Baik nek”, kata wanita tadi.
Kemudian tak berapa lama dia memutar jam tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan nenek tadi. Dan tiba-tiba dia bisa bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Tapi dia tak puas dengan lamanya waktu yang di perlukan agar bisa mengoprasi wajahnya.

Kemudian dia kembali memutar jam tersebut, dan wajahnya pun menjadi cantik. Lagi-lagi dia kurang puas dengan wajahnya, dan kembali dia memutar jam kecil pemberian nenek-nenek yang pernah dia temui sekali lagi. Tapi setelah memutar jamnya dia mendapati wajahnya yang semula cantik jelita menjadi tua dan keriput. Dan dia menyesal dengan keadaan dia sekarang. Kemudian dia kembali menemui nenek-nenek yang memberi dia jam di tempat di mana dia bertemu. Tapi dia tak melihat nenek tersebut karena nenek itu telah lama meninggal. Dia pun hanya bisa menyesal dan menangisi nasibnya.

Teman-teman ku apa pesan yang dapat kita ambil dari kejadian wanita tadi?

Jadilah diri sendiri karena hanya dengan menjadi diri sendiri kita akan menjadi pribadi yang hidup dengan penuh rasa bahagia, damai, dan mulia.
Raihlah cita-cita dengan penuh pengorbanan, kegigihan, dan kedisiplinan waktu untuk belajar.
Kesuksesan bukan datang dari nasib dan keberuntungan, tapi datang dari kerja keras, ketidak putus asaan dan keyakinan.

Senin, 02 Juli 2012

Suara Seorang Kakak

Sebagian besar orang memperoleh inspirasi dalam hidup mereka. Mungkin dari percakapan dengan seseorang yang kau hormati atau sebuah pengalaman. Apa pun bentuknya, inspirasi cenderung membuatmu memandang kehidupan dari sudut pandang yang baru. Inspirasiku berasal dari adikku Vicki, seseorang yang baik hati dan penuh perhatian. Ia tidak peduli akan penghargaan atau masuk dalam surat kabar. Yang diinginkannya hanyalah berbagi cinta dengan orang yang dikasihinya, keluarga dan teman-temannya.

Pada musim panas sebelum aku mulai kuliah tingkat tiga, aku menerima telepon dari ayahku yang memberitakan bahwa Vicki masuk rumah sakit. Ia pingsan dan bagian kanan tubuhnya lumpuh. Indikasi awal adalah ia menderita stroke. Namun, hasil tes memastikan bahwa penyakitnya lebih serius. Ada sebuah tumor otak ganas yang menyebabkannya lumpuh. Dokter hanya memberinya waktu kurang dari tiga bulan. Aku ingat aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin ini terjadi? Sehari sebelumnya Vicki baik-baik saja.

Sekarang, hidupnya akan berakhir pada usia begitu muda. Setelah mengatasi rasa kaget dan perasaan hampa pada awalnya, aku memutuskan bahwa Vicki membutuhkan harapan dan semangat.

Ia memerlukan seseorang yang membuatnya percaya bahwa ia dapat mengatasi rintangan ini. Aku menjadi pelatih Vicki. Setiap hari kami membayangkan bahwa tumornya menyusut dan semua yang kami bicarakan bersifat positif. Aku bahkan memasang poster di pintu kamar rumah sakitnya yang bertulisan, “Kalau kau memiliki pikiran negatif, tinggalkan pikiran itu di pintu.”

Aku sudah berbulat hati untuk membantu Vicki mengalahkan tumor itu. Kami berdua membuat perjanjian yang disebut 50-50. Aku berjuang 50% dan Vicki akan memperjuangkan 50% sisanya.

Bulan Agustus tiba dan kuliah tingkat tiga akan dimulai di universitas yang jaraknya 3000 mil dari rumah. Aku bingung, apakah aku harus pergi atau tetap menemani Vicki. Aku salah bicara, menyebutkan bahwa aku mungkin tak akan pergi kuliah. Ia menjadi marah dan menyuruhku untuk tidak khawatir karena dia akan baik-baik saja. Jadi, malah Vicki, yang berbaring sakit di tempat
tidur di rumah sakit, yang menyuruhku agar jangan khawatir. Aku sadar bahwa kalau aku tetap bersamanya, aku
mungkin akan menyiratkan bahwa dia sedang sekarat dan aku tak mau ia berpikir begitu. Vicki harus yakin bahwa ia dapat menang melawan tumor itu.

Kepergianku malam itu, merasakan bahwa ini mungkin terakhir kalinya aku melihat Vicki dalam keadaan hidup, adalah hal yang tersulit yang pernah kulakukan. Selama kuliah, aku tak pernah berhenti memperjuangkan 50% bagianku untuknya. Setiap malam sebelum tidur, aku berbicara dengan Vicki, berharap ia dapat mendengarku. Aku berkata, “Vicki, aku sedang berjuang untukmu dan aku tak akan menyerah. Asalkan kau tak pernah berhenti berjuang, kita dapat mengalahkan tumor ini.”

Beberapa bulan berlalu dan dia masih bertahan. Aku sedang berbicara dengan seorang teman yang lebih tua dan ia menanyakan keadaan Vicki. Aku bercerita bahwa kondisinya makin buruk, tapi dia tak menyerah.

Temanku melontarkan suatu pertanyaan yang benar-benar membuatku berpikir. Katanya, “Menurutmu, apakah dia bertahan itu karena dia tak mau mengecewakanmu?” Mungkin perkataannya benar? Mungkin aku egois, menyemangati Vicki untuk terus berjuang? Malam itu sebelum tidur, aku berkata padanya, “Vicki, aku mengerti kau sangat menderita dan mungkin kau ingin menyerah. Kalau memang begitu, aku mendukungmu. Kita tidak akan kalah karena kau tak pernah berhenti berjuang. Kalau kau ingin pergi ke tempat yang lebih baik, aku mengerti. Kita pasti bersama lagi. Aku menyayangimu dan aku akan terus bersamamu di mana pun kau berada.”

Keesokan paginya, ibuku menelepon, memberi tahu bahwa Vicki telah meninggal.

Sumber: Chicken Soup for the Teenage Soul, by James Malinchak

Jumat, 29 Juni 2012

PEGAWAI HOTEL YANG SABAR

Beberapa bulan yg lalu di meja pemesanan kamar hotel Memphis, saya melihat suatu kejadian yg bagus sekali, bagaimana seseorang menghadapi orang yg penuh emosi.

Saat itu pukul 17:00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftar tamu-tamu baru. Orang di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah. Pegawai tsb berkata, "Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar 'single' untuk Anda."

"Single?" bentak orang itu, "Saya memesan double."

Pegawai tsb berkata dg sopan, "Coba saya periksa sebentar." Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, "Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada. Tetapi semua kamar double sudah penuh."

Tamu yg berang itu berkata, "Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double."

Kemudian ia mulai bersikap "Anda-tau-siapa-saya?" diikuti dengan "Saya akan usahakan agar Anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan buat Anda dipecat."

Di bawah serangan gencar, pegawai muda tsb menyela, "Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda."

Akhirnya, sang tamu yg benar2 marah itu berkata, "Saya tidak akan mau tinggal di kamar yg terbagus di hotel ini sekarang --- manajemennya benar2 buruk," dan ia pun keluar.

Saya menghampiri meja penerimaan sambil berpikir si pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis2an. Sebaliknya, ia menyambut semua dengan salam yg ramah sekali "Selamat malam, Tuan."

Ketika ia mengerjakan rutin yg biasa dalam mengatur kamar untuk saya, saya berkata kepadanya, "Saya mengagumi cara Anda mengendalikan diri tadi. Anda benar2 sabar."

"Ya, Tuan," katanya, "Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, ia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yg malang tadi mungkin baru saja ribut dg istrinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barangkali ia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya."

Pegawai tadi menambahkan, "Pada dasarnya ia mungkin orang yg sangat baik. Kebanyakan orang begitu." Sambil melangkah menuju lift. Saya mengulang-ulang perkataannya, "Pada dasarnya ia mungkin orang yg sangat baik. Kebanyakan orang begitu."

Ingat dua kalimat itu kalau ada orang yg menyatakan perang pada Anda. Jangan membalas. Cara untuk menang dalam situasi seperti ini adalah membiarkan orang tsb melepaskan amarahnya, dan kemudian lupakan saja.

Selasa, 26 Juni 2012

Hukum Pygmalion : Hukum Berpikir Positif

Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.

Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.

• Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel.Tetapi Pygmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini."

• Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu".
• Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, "Ah,sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu." Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion,yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.

Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.

Misalnya,

* Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.

* Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.

* Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.

• Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur,akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.

• Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain.

Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.

Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, "Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita mengomel, "Ah, hadiahnya cuma barang murah." Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif,kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, "Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita."

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai

Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam.Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.

Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.

Jangan Sampai Dihantui Diri Sendiri

Dunia kita ini sesungguhnya tidak serumit itu, hanya saja kita sendiri yang selalu menjadikannya sangat rumit. Mungkin lawan anda sama sekali tidak ada niat tidak baik terhadap anda, hanya saja anda sendirilah yang telah menganggapnya seperti itu. Keadaan kita ini, sesungguhnya tidak ada sesuatu apa pun yang pantas untuk dikhawatirkan, kita sendirilah yang selalu menghantui diri kita sendiri.

Ada seorang pemuda, yang putus asa karena terpukul oleh kegagalan yang dialaminya, datang untuk menemui saya.
Dengan penuh kekalutan dia menceritakan kepada saya, bahwa dia merasa telah bosan dan letih dengan kehidupan ini, dia ingin segera mengakhiri hidupnya.

Saya tidak terkejut mendengar penuturan itu, juga tidak menyalahkan dirinya, justru sebaliknya dengan perasaan tenang saya balik bertanya kepada pemuda ini, apakah tidak ada pilihan lain lagi. Dia menjawab, tidak ada, semua teman dan keluarga saya menganggap remeh diri saya, pandangan orang-orang di sekitar saya memancarkan sorot mata menghina, bahkan saya merasa pohon-pohon di sepanjang jalan pun memandang saya dengan dingin.

Pemuda itu duduk di dalam ruang kerja saya. Saat ini di dunia ini serasa hanya ada kami berdua saja. Pohon willow putih yang rindang di luar jendela mengeluarkan suara-suara gesekan dedaunan akibat hembusan angin. Dengan rona tanpa ekspresi saya melemparkan pandangan keluar jendela.

Mengiringi pandangan mata saya, pemuda itu pun melihat pemandangan di luar itu. Lama setelah itu, saya bertanya lagi padanya, anda merasa hutan di luar itu sangat menyeramkan? Atau anda merasa suara dedaunan di luar sana penuh dengan aura kebencian? Dengan sangat bimbang dia memandang saya, tidak mengerti dengan apa yang saya maksud.

Selanjutnya saya berikan satu karangan prosa yang tadi baru saja saya selesaikan agar dibacanya. Karangan prosa ini menuliskan tentang pemandangan hutan dari jendela ruang kerja saya ini. Saya bertanya padanya, apakah anda sama sekali tidak sependapat? Sepertinya ada sesuatu yang mulai dia pahami. Ia berkata, sebidang hutan yang sama, mengapa justru menjadi sedemikian indahnya di bawah goresan pena anda, sementara saya justru merasa mereka tidak ada bedanya dengan hutan-hutan lain?

Saya berkata, inilah makna dunia ini yang sesungguhnya. Yang anda lihat hari ini disini adalah sebait kisah yang saya tulis dari hutan ini, saya sarankan agar besok bertamulah anda ke pelukis yang menetap di rumah sebelah, di tempatnya anda akan dapat melihat hutan ini menjadi sebuah lukisan yang sangat indah. Pemuda itu sepertinya telah menyadari sesuatu, ekspresi wajahnya yang suram ketika datang tadi kini telah berubah menjadi santai dan ceria.

Ketika itu, ada suara-suara sapuan dari lantai satu. Saya tahu itu adalah suara cleaning service yang sedang menyapu jalanan di bawah. Saya katakan padanya, tukang sapu itu setiap hari membersihkan hutan di bawah sana, tahukah anda bagaimana cara pandangnya terhadap hutan ini?

Yang dia lihat adalah setiap hari berapa helai daun yang rontok dari pohon ini, pohon mana yang akan segera mati, dimana perlu ditanam lagi sebatang pohon. Pemuda itu mendadak sadar. Ia berkata, saya sudah mengerti, hutan ini takkan pernah berubah, hutan ini akan selalu sama saja terhadap orang lain, semuanya tergantung pada pandangan orang terhadap hutan ini sendiri.

Jiwa pemuda itu pun sepenuhnya telah santai. Saya beritahu dia, kenyataannya, teman dan keluarga anda masih tetap teman dan keluarga anda, mereka bahkan masih belum mengetahui kejadian yang telah anda alami, semua itu adalah anggapan anda sendiri bahwa mereka akan berpandangan seperti itu. Pohon di sepanjang jalan di hutan ini lebih tidak bersalah lagi, mereka tetap seperti dulu sejak tumbuh besar disini. Dan udara disini, apakah masih anda rasa menyesakkan dada?

Pemuda itu pergi setelah melepaskan beban berat itu, saya percaya dia telah menemukan kembali kemudi perahu kehidupannya. (Lu Xian Sheng)

Senin, 25 Juni 2012

Dalam Air Mendidih

Saat pemilik warung kecil sedang berkemas untuk menutup warungnya, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya. Dia tampak lesu dan tidak bersemangat. "Maaf anak muda, warung ini sudah tutup. Kau bisa kembali lagi besok ", kata pemilik warung itu. "Iya pak, saya tau kalau bapak sedang bersiap untuk menutup warung ini. Saya cuma lelah saja pak, boleh kah saja duduk sejenak", jawab anak muda itu. "Tentu saja", jawab pemilik warung dengan ramah.

Anak muda itu mulai bercerita tentang kehidupannya. Dia merasa hidup ini sangat berat. Tak ada kekuatan lagi untuk bertahan. Rasanya ingin mati saja. Percuma berjuang untuk hidup. Masalah tidak pernah berhenti dari hidupnya. Begitu masalah yang satu sudah bisa teratasi, timbul lagi masalah yang lain. Begitu seterusnya.
Pemilik warung pun tersenyum lalu mulai mengambil 3 panci berisi air dan menaruhnya di atas kompor yang menyala. "Bisakah kau membantuku untuk mengambil kentang, telor, dan bubuk teh itu?" tanya pemilik warung. "Apa yang akan bapak lakukan? Saya tidak memesan apapun", jawab anak muda itu. "Aku kan minta tolong untuk mengambilkan saja", jawab pemilik warung. Anak itu pun menuruti apa yang bapak itu katakan.Pemilik warung itu pun mulai memasukkan kentang, telur, dan teh kedalam 3 panci yang berbeda. Mereka buerdua menunggu sampai air itu mendidih. Setelah menunggu selama 30 menit, pemilik warung itu mulai mengangkat kentang dan telur lalu meletakkkannya di piring, dan menunagkan teh ke dalam gelas.

"Apa yang kau lihat anak muda?", tanya pemilik warung. "Kentang, telur, dan teh", jawab anak muda itu. Kemudian si pemilik warung menyuruh anak muda itu untuk merasakan semuanya itu. Dia pun mulai mengupas kentang dan memakannnya. Kentang itu terasa lunak dan lembut. Lalu dia mulai mengambil telur, mengupas kulit dan memakannya. Dia mendapati telur yang keras. Yang terakhir, si pemilik warung menyuruh anak muda itu untuk meminum teh. Dengan aroma khas teh, anak muda itu tersenyum sambil menikmati teh hangat itu.

"Bagaimana menurutmu tentang kentang, telur dan teh yang kau makan tadi?", kata pemilik warung. "Ya, seperti itulah pak. Kentang yang lunak, telur yang keras, dan teh yang nikmat". Kemudian si pemilik warung itu menjelaskan bahwa kehidupan itu seperti kentang, telur, dan teh. Ketiganya melewati proses yang sama yaitu direbus di dalam air yang mendidih. Dalam Air MendidihSebelumnya kentang itu begitu keras dan susah untuk dikupas, setelah direbus menjadi lembek dan lunak. Telur yang sebelumnya sangat mudah pecah menjadi keras. Sedangkan untuk teh itu telah mengalami perubahan yang unik. Teh itu telah membuat seluruh air menjadi berwarna cokelat dan memberi aroma yang khas pada air itu.

Air yang mendidih itu merupakan masalah-masalah yang sedang terjadi dalam setiap kehidupan. Bagaimana cara kita untuk melewati setiap masalah-masalah yang ada? Apakah kita ini termasuk kentang, telur, atau teh?

Kentang yang sebelumnya keras, setelah direbus menjadi sangat lembek. Maukah kita menjadi kentang? Setelah mengalami kesulitan menjadi putus asa, gampang menyerah, dan kehilangan seluruh kekuatan kita.

Telur yang sebelumnya begitu mudah pecah, setelah direbus menjadi keras. Maukah kita menjadi telur? Yang sebelumnya sangat lemah lembut dan penuh kasih maka setelah melewati berbagai macam pencobaan menjadi sangat keras hati.

Ataukah kita menjadi teh yang merubah air panas itu? Melewati semua kesakitan dan penderitaan yang ada untuk mencapai kenikmatan yang luar biasa? Ketika air pencapai suhu terpanas, maka teh itu akan semakin nikmat. Dimana saat diri kita semakin terpuruk, maka pada saat itu pula kita sedang dalam proses untuk
  mengubah diri kita dan lingkungan sekitar kita untuk menjadi lebih baik.
Ataukah kita menjadi teh yang merubah air panas itu? Melewati semua kesakitan dan penderitaan yang ada untuk mencapai kenikmatan yang luar biasa? Ketika air pencapai suhu terpanas, maka teh itu akan semakin nikmat. Dimana saat diri kita semakin terpuruk, maka pada saat itu pula kita sedang dalam proses untuk mengubah diri kita dan lingkungan sekitar kita untuk menjadi lebih baik.

Sudahkah 'teh' ini menjadi sumber inspirasi kita untuk betahan hidup dalam setiap kesulitanSudahkah 'teh' ini menjadi sumber inspirasi kita untuk betahan hidup dalam setiap kesulitan

yang ada? Karena kunci untuk melewati semua masalah dan pencobaan yang ada adalah dengan tekun dan sabar, tidak mudah putus asa, percaya, dan tetap berusaha.

Rabu, 20 Juni 2012

A TASTE OF CHERRY

Kisahnya tentang seorang Iran paruh baya yang berkeliling mencari orang yang bisa membantunya untuk bunuh diri. Yang ia minta sederhana saja. Ia akan menggali tanah kubur di tempat yang telah ia pilih, lalu malam hari ia akan berbaring di dalam kubur itu, setelah ia minum obat tidur dalam dosis mematikan. Ia hanya minta orang yang membantunya untuk datang di pagi hari dan menutup kuburan itu kalau ia memang telah mati.

Nyaris semua orang menolak. Ada satu guru agama dari Afganistan yang ia mintai bantuan malah memberinya ceramah tentang betapa bunuh diri adalah dosa tak terampunikan dalam Islam.

Sang tokoh bilang, saya tak butuh ceramah, saya butuh bantuan. Sang tokoh merasa bahwa ia tak menemukan makna hidup, bahwa hidup ini sia-sia belaka. Betapa hidupnya sunyi, tak ada lagi yang memberinya alasan untuk tetap hidup. Tak ada agama atau omongan orang yang bisa memuaskannya.
Bukankah adalah haknya sepenuhnya untuk memilih berhenti hidup?

Akhirnya ada seorang tua yang bersedia menolong sang tokoh bunuh diri.
Orang tua itu sama sekali tak keberatan dengan pilihan sang tokoh.
Tapi orang tua itu bercerita tentang pengalaman hidupnya, suatu
ketika, saat ia merasa ia lebih baik mati saja. Orang tua itu mencoba bunuh diri, tapi gagal.

Di pagi setelah kegagalannya bunuh diri, si orang tua merasakan dunia seakan baru pertama kali. Hangatnya mentari, indahnya semburit cahaya fajar, kicau bung, segalanya dalam dunia ini begitu indah.

"Apakah engkau lupa betapa enaknya rasa buah cherry?" Tanya si orang tua itu kepada sang tokoh. Seakan si tua ingin berkata bahwa, mengapakah engkau ingin meninggalkan rasa buah cherry, ingin meninggalkan semua keindahan ini?

Ya, mensyukuri buah cherry (mensyukuri segala aspek terkecil alam hidup ini) mestinya bisa jadi salah satu cara untuk mengobati luka hati. Alangkah ajaibnya hidup ini, alangkan indahnya!

Tapi manakah yang lebih patut disyukuri, rasa buah cherry itu,
ataukah lidah yang membuat kita bisa mengecap rasa buah cherry itu?